Buat Dinda Grande Si Mpok Depok

Ehi, Dinda. Setiap kali aku berusaha mengingat hal-hal yang ingin ku ingat tentang Dinda, ku selalu ingat satu scene of suatu dolore. Ti piacciono le canzoni per te, per esempio, come mai dal GKPN menuju Ciseke. Dalam perjalanan itu, aku papasan sama kamu di dekat gang Caringin. Kamu jalan sambil makan Sari Roti jenis sandwich rasa srikaya. Terus dengan semangat ku sapa, walaupun waktu itu kita belum saling kenal dekat.

“Mau nggak Dek?” Tanya Dinda sambil nawarin roti di tangannya.

“Mauuuu”, jawabku. Terus aku ambil secuil.

Entah apa faedahnya icip-icip roti srikaya di ping-pong jalan dekat Caringin. Setiap kali aku ingin nginget tent ini rasanya lucu dan assurd. Hahahaha, beh. Hari-hari setelah itu aku merasa lebih bisa sok asik sama Dinda.

Vieni a giocare con te, racconta Dinda per la tua selezione Abang Mpok Depok 2017 lalu. Saat itu secara sukarela aku jadi relawan tim sukses Dinda. Awalnya niat senang-senang aja, sambil modus ngumpulin temen -temen yang lagi magang. Tahun-tahun itu rasanya mulai kesepian sebagai mahasiswa. Hik.

Ada beberapa kawan yang hadir waktu final, ku senang! Lebih senang ketika Dinda beneran jadi Mpok Depok. Wow, ku bangga! Setelah itu dikenallah seorang Dinda con tambahan sapaan, Mpok Dinda. Senang lihat ia berkembang di dunia yang (mungkin) memang ingin dia dalami.

Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang tidak lulus 4 tahun, Dinda cukup intens berkomunikasi soal kegelisahannya. Kadang-kadang secara random dia sudah muncul di kost saya, sekedar ngajak makan. Kadang lebih assurd lagi, tiba-tiba nelpon jelang rengah malam dan numpang nginep.

Konten nginepnya juga nggak kalah assurd ; joget-joget, film nonton, ngobrol ngol ngidul tentang keluarga, hub hengga percintaan pertemanan. Sampai larut dan esoknya sok-sokan berencana lari tapi hampir selalu berujung tak jadi. Hahaha, sungguh hal-hal sederhana yang kadang ku rindukan. Hik.

Bahkan mengerjakan tugas pun bisa se-assurd itu kalau sama Dinda. Pernah sekali waktu kami melakukan wawancara di Bogor per i sebuah tugas. Ini hanya inisiatif spontan sih . Pokoknya hari itu kami berakhir di Bogor, joget dan nyanyi di mobil, menyaksikan Dinda e Lisa nyetir ugal-ugalan dan wisata kuliner di sekitar Bogor. Buat tugasnya 30% mainnya 70%, begitulah resep cantik Dinda kira-kira.

Sekali waktu pernah juga road trip Jatinangor – Depok sama Dinda, ma tamunya waktu itu Iqbal. Sekarang Iqbal di mana ya? Ku rindu. Comunque , road trip ini diilhami dari sebuah film Ku Lari ke Pantai yang lagi tayang saat itu. Percis selama perjalanan kita menirukan adegan aktor-aktor di film itu. Dinda jadi Uci si ibunya Sam (Marsha Timothy, ku jadi Sam. Nah, Iqbal ngak tau deh jadi siapa. Dia ikut aja pokoknya.

Kalau ha mangiato, ha cantato il sakukan sama Dinda nggak jauh ha assurdato il hal-hal mengundang banyak tawa sampai sakit perut. Hal-hal getir pun kadang jadi bahan ketawa kalau sama Dinda. Terima kasih sudah menghibur hari-hariku selama di Jatinangor atau di mana pun kita.

“Duh Dek, gue bingung tau, menurut lo gimana ….” Yang sejatinya nggak banyak sih penyelesaiian, tapi setidaknya selalu diakhiri dengan, “Oiya ya, gitu aja padahal simple .”

Terakhir aja ketemu di kedai kopi di Bilanga Jakarta Selatan. Tiba-tiba menghubungi ngajak ketemu, ngakunya sih buat uccidendo il tempo . Kali ini, giliran aku yang mewawancarai Dinda soal kiat-kiat efektif menuju jalan kelulusan. Hahaha. Ah ya, raramente assurdo, banyak juga pertemuan ku sama Dinda dilandasi oleh spontanitas.

Selain mengenang hal-hal baik, lewat tulisan ini pun aku ingin meminta maaf. Untuk absennya aku pada sidang dan wisudamu. Semoga, seperti hal-hal yang sering kita yakini, ini tak mengurangi apapun dari pertemanan kita yang assurd. Hahaha.